Suara Bocah Bekasi

Rabu, 03 Oktober 2012

AKU DAN PLN ; ANTARA KRITIK DAN HARAPAN DI MASA DATANG. Oleh: Ihya Ulumuddin Emgee


 Saya adalah seorang bocah (anak dalam bahasa betawi) Bekasi aseli, kelahiran daerah terpencil di utara Bekasi. 20 tahunan yang lalu daerah saya adalah daerah terpencil dan sulit dijamah oleh orang. Karena, kampung saya aja namanya Kampung Jumalang (udah di ujung dan malang lagi). Tapi, saya tetap

Rabu, 18 Januari 2012

Sambutan event Penganugerahan Lomba Menulis sosok KH. Noer Ali Pahlawan Nasional Asal Bekasi


 Assalamu’alaikum Warahmatullahi  Wabarakatuh.


الحمد لله وكفى والصلاة والسلام على سيد المصطفى وعلى اله واصحابه اهل الصدق والتقى. اما بعد
يقول الله تعالى فى محكم تنزيله وهو اصدق القائلين اعودبالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم    وهو الدي جعلكم خلائف الارض ورفع بعضكم فوق بعض درجات ليبلوكم في ما أتاكم ان ربك سريع العقاب وانه لغفوررحيم. صدق الله العظيم وصدق رسوله النبي الكريم ونحن على دلك من الشاهدين والشاكرين والحمدلله رب العالمين.
Puji serta syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kepada kita semua nikmat. Meliputi nikmat Iman, Islam serta nikmat kesehatan. Sehingga dengan nikmat tersebut kita semua dapat bersilaturrahim di acara yang penuh dengan keberkahan dan Ilmu pengetahuan.

Sholawat dan salam marilah kita hadiahkan teruntuk sang revolusioner Islam sejati, Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa ummatnya dari zaman Jahiliyah hingga ke zaman Ilmiyah.

Terima kasih kami haturkan kepada Keluarga Besar Almaghfurlah Wal-Mujahid Fii Sabilillah KH. Noer Alie dan Attaqwa.
Terima kasih kami haturkan kepada Bapak Pimpinan Umum Yayasan Attaqwa Pusat (Bapak KH. Moh. Amien Noer Alie, MA)

Terima kasih pula kami haturkan teruntuk Guru Kami tercinta Pimp. Ponpes Attaqwa Pusat Putera (Bapak KH. Nurul Anwar Noer Alie, Lc)

Terima kasih pula kami haturkan teruntuk Ibu Ustazah Hj. Atiqoh Noer Alie, MA selaku (Pimp. Ponpes Attaqwa Pusat Puteri).

Terima kasih pula kami haturkan teruntuk Abangku Alumni Attaqwa tahun 1992 (Bapak H. Muhtadi Muntaha, Lc) yang biasa saya baca ketika membaca koran Radar Bekasi terkait dengan statement-statementnya dengan nama panggilan HUGO MUHTADI selaku Anggota Komisi D DPRD Kab. Bekasi. Terima kasih Abangku atas aspirasinya dalam bidang peningkatan kualitas SDM Alumni dan pelajar Attaqwa.
Rekan-rekan panitia dan para pengagum serta pemerhati pemikiran-pemikiran KH. Noer Alie semuanya yang saya hormati.

Dan terima kasih pula kami haturkan kepada Abangku DR. H. Sa'duddin, MM atas di acc-nya program peningkatan SDM di lingkungan Pemuda/pelajar di Bekasi dengan adanya Lomba ini.

Mengutip goresan pena nya Chairil Anwar yang terinspirasi dari semangat patriotisme nya Sang Mujahid Almghfurlah KH. Noer Alie (Karawang – Bekasi) “Kami sudah coba apa yang kami bisa. Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa. Kami sudah beri kami punya jiwa. Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa. Kenang-kenanglah kami. Menjaga Bung Karno. Menjaga Bung Hatta. Menjaga Bung Syahrir”

Petuah Sang Pahlawan Nasional pun kepada murid formal dan non formalnya dengan jargon “Jadilah Elu itu orang yang Bener, Pinter dan Terampil” sedikit tapi penuh makna dan isi yang amat dalam untuk mentafsirkannya.

Kami pun teringat dengan pesan KH. Imam Zarkasyi (pelopor pendidikan Islam modern) pendiri PM GONTOR yang berkata “Andaikata muridku tinggal satu, akan tetap kuajar, yang satu ini sama dengan seribu, kalaupun yang satu ini pun tidak ada, maka aku akan mengajar dengan pena.”

Gary Yukl, dalam Bukunya “Leadership in Organization” (Kepemimpinan dalam Organisasi) Edisi Kelima menggambarkan di halaman 289 kalau kita perhatikan dengan seksama bahwa “Almaghfurlah Wal-Mujahid Fii Sabilillah Bapak KH. Noer Ali adalah ciri seorang Leader/pemimpin yang berkarisma, berkarakter dan transformasional.” Karena berkat beliau (KH. Noer Ali) Jumalang bisa menjadi Ujungharapan, yang semoga penuh dengan keberkahan dan harapan-harapan serta daerah Bekasi dapat tumbuh dan berkembang dan maju seperti sekarang.

Dari kalimat-kalimat progressif di atas lah yang menjadi titik tolak tercetusnya ide untuk mengadakan Lomba Menulis Sosok KH. Noer Ali Pahlawan Nasional Asal Bekasi, meskipun banyak pertimbangan dan kajian yang dalam dari Bang Hugo dalam menentukan aspirasi ini. Dengan harapan semoga dengan adanya Lomba Menulis ini. Panutan dan idola kita sepanjang hayat benar-benar menjadi tokoh yang patut di gugu dan ditiru.
Akhirnya, tiada gading yang tak retak. Dan tugas kami belum selesai, kami bangga dan salut kepadamu, akan kami patri terus semangat jihad dan perjuanganmu wahai sang Mujahid... di setiap jiwa dan batin generasi penerus mu Pemuda Jumalang dan Bekasi Raya.

Salam JAS MERAH...
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Rabu, 11 Januari 2012

KARAWANG - BEKASI

KARAWANG BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang-kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

Karya Chairil Anwar

Rabu, 07 Desember 2011

Penjaja Keripik Mr. Kribo Aseli Bekasi (Mr. Ihya Brown, Mr. Ontel Blue, Mr. Red Apple)


Lebih tepatnya saat aku melihat dia adalah mengingatkan aku pada sosok guru sewaktu aku masih duduk di bangku SD, dia mirip sekali dengan guru seniku. Guru yang selalu mengajarkan aku indahnya bermain music dan indahnya berseni. Dari jiwa guruku itu yang pernah membuat aku bermimpi untuk menjadi seniman. Dari cara dia berbicara juga sangat mirip sekali dengan guruku itu. Aku jadi ingin mengulang masa-masa SD.
Ini yang dagang keripik Mr. Kribo yang itu dia Dosen loh Dee.” Kata Kakakku sambil mengunjuk dia yang aku katakana mirip guru SD ku.
Dosen Kak ? kok jualan keripik di pinggir jalan ?” tanyaku penasaran sekali
Jangan salah, tim akademik keripik kribo itu bukan orang yang pengangguran Dee.”
Oh gitu.” Jawabku sambil berfikir “Ih hebat banget yah”
Aku sangat menyukai malam hari. Sungguh indah tepatnya. Di bawah pohon, di tengah keramaian kota. Aku duduk bersama Kakakku dan dia. Sambil menikmati indahnya malam hari, dia bercerita asal usul munculnya Keripik Mr. Kribo.
Sebelum jadi seorang pedagang keripik ini, saya guru SMA, ceritanya saya cinlok sama murid saya itu.” awal dia bercerita. Aku masih terdiam mendengarkan dengan baik.
Emmm terus Pak ?” tanyaku
Dia mau juga ternyata sama saya, suatu hari dia kasih saya sesuatu.”
Apa itu Pak ?”
Kaos, sederhana mungkin tapi itu sungguh jadi inspirasi buat saya. Kaosnya gambar orang yang rambutnya kribo.”
Oh jadi itu awalnya yah Pak ?”
Iya.”
Sungguh indah.”
Bukan hanya itu yang jadi inspirasi saya dagang keripik Mr. Kribo.”
Apalagi Pak ?”
Tutur kata dia begitu pelan dan santai. Aku masih duduk manis dan tetap mendengarkan. Hidup itu berputar, kadang hitam kadang putih dan itu sudah mutlak. Sebelum dia jadi seorang dosen, dia hanyalah anak lulusan pesantren yang menjadi tukang sapu di salah satu tempat bimbel.
Bisa bayangin gak, saya udah nyapu ngepel eh anak-anak yang bimbel pada nginjek nginjek ?” ucap dia. Aku hanya tersenyum
                Semangat mudanya sungguh menggebu. Mulai hanya dari seorang tukang sapu hingga menjadi guru sampai menjadi seorang dosen itu membutuhkan proses yang panjang dan tidak mudah. Tapi itulah hidup.
Saya pasti bisa, hanya itu yang ada di dalam benak saya. Saya berusaha hingga jadilah saya sekarang yang tadinya hanya menjadi tukang sapu, sekarang saya bisa menjadi dosen berdasi dan usaha keripik. Kuncinya hanya kita mau usaha dan semangat serta berdoa.”
                Simple sekali memang, tapi cerita malam itu membuatku tak habis pikir. Hanya dari awal yang begitu sederhana bisa menciptakan hasil yang patut di banggakan.
***

Gaji Dosen itu memang cukup untuk saya sendiri, tapi engga akan cukup untuk keluarga saya nanti makanya saya cari usaha lain.” Ucap dia sambil meceritakan bahwa gaji Dosen itu mungkin cukup untuk hanya keperluan dia tapi jika suatu hari dia sudah berkeluarga, dia katakan bahwa gaji Dosen tidak akan mencukupinya.
Segala sesuatu itukan butuh proses yah, ketika saya ada keinginan untuk membuka usaha, dari situlah saya bertemu ke-2 teman saya ini.” Dia menunjuk Kakakku dan teman nya yang juga duduk di sampingku. Sekarang aku tau yang melatar belakangi terciptanya usaha yang sederhana tapi sangat bermanfaat ini adalah ketika takdir mempertemukan pemuda yang tangguh untuk membangun sebuah usaha. Aku yakin mereka bisa, karena dari hal kecil itulah akan tumbuh menjadi hal yang paling besar.
Kita punya kesamaan prinsip Dee.” Ucap Kakakku
Prinsip apa kak ?” tanyaku
Prinsip kalo kita engga mau kerja itu digaji, kita pengen jadi bos.” Semangat Kakakku selalu buat aku percaya kalau dia bisa menjadi orang hebat.
Hebat.” Ucapku tersenyum lirih
You are is the best Dee.” Ledekan kakakku itu membuat malam menjadi lebih indah dari biasanya
Ah kakak bisa aja.”
***

Jadi begitu ceritanya Dee.” Ucap Kakakku
Unik sekali yah kak, hanya berawal dari sebuah pemberian kaos yang gambarnya orang kribo terus dari semangat dia yang awalnya menjadi tukang sapu hingga bisa menjadi seorang dosen dan sekarang usaha keripik.”
Betul sekali itu Dee, kita engga pernah malu kok jualan keripik di pinggir jalan.”
Hebat banget ih kak, padahal kakak dan ke dua teman kakak itu seorang guru yang engga pernah malu untuk maju.”
Kamu bisa aja, Dee.”
Aku salut loh Kak.”
Doain aja semoga usaha keripik ini bisa lancar dan bisa masuk program di tivi hehehe.” Canda Kakakku
Aamiin Kaka.” Aku tersenyum penuh kelegaan
Tidak ingin rasanya aku melewati malam itu. Malam yang memberi aku banyak pelajaran serta semangat baru yang menggebu menggapai asa untuk maju. Apakah aku bisa seperti Pak Maulana yang mirip bangat dengan guru seni waktu di SD ku dulu?. Semoga...
***













Senin, 31 Oktober 2011

99 Cahaya di Langit Eropa

Sinopsis

Aku mengucek-ucek mata. Lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus itu terlihat biasa saja. Jika sedikit lagi saja hidungku menyentuh permukaan lukisan, alarm di Museum Louvre akan berdering-dering. Aku menyerah. Aku tidak bisa menemukan apa yang aneh pada lukisan itu. ‘’Percaya atau tidak, pinggiran hijab Bunda Maria itu bertahtakan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah, Hanum,’’ ungkap Marion akhirnya.

***

Apa yang Anda bayangkan jika mendengar “Eropa”? Eiffel? Colosseum? San Siro? Atau Tembok Berlin?

Bagi saya, Eropa adalah sejuta misteri tentang sebuah peradaban yang sangat luhur, peradaban keyakinan saya, Islam. Buku ini bercerita tentang perjalanan sebuah “pencarian”. Pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan Islam di benua ini.

Dalam perjalanan itu saya bertemu dengan orang-orang yang mengajari saya, apa itu Islam rahmatan lil alamin. Perjalanan yang mempertemukan saya dengan para pahlawan Islam pada masa lalu. Perjalanan yang merengkuh dan mendamaikan kalbu dan keberadaan diri saya.

Pada akhirnya, di buku ini Anda akan menemukan bahwa Eropa tak sekadar Eiffel atau Colosseum. Lebih…sungguh lebih daripada itu.


“Buku ini berhasil memaparkan secara menarik betapa pertautan Islam di Eropa sudah berlangsung sangat lama dan menyentuh berbagai bidang peradaban. Cara menyampaikannya sangat jelas, ringan, runut, dan lancar mengalir. Selamat!”

–M. Amien Rais (Ayahanda Penulis)

“Pengalaman Hanum sebagai jurnalis membuat novel perjalanan sekaligus sejarah ini mengalir lincah dan indah. Kehidupannya di luar negeri dan interaksinya dengan realitas sekulerisme membuatnya mampu bertutur dan berpikir ‘out of the box’ tanpa mengurangi esensi Islam sebagai rahmatan lil alamin.”
–Najwa Shihab (Jurnalis dan Host Program Mata Najwa, Metro TV)

“Karya ini penuh nuansa dan gemuruh perjalanan sejarah peradaban Islam Eropa, baik pada masa silam yang jauh maupun pada masa sekarang, ketika Islam dan Muslim berhadapan dengan realitas kian sulit di Eropa.”

–Azyumardi Azra (Guru Besar Sejarah, Direktur Sekolah Pascasarjana UIN, Jakarta)

“Hanum mampu merangkai kepingan mosaik tentang kebesaran Islam di Eropa beberapa abad lalu. Lebih jauh lagi, melihat nilai-nilai Islam dalam kehidupan Eropa. Islam dan Eropa sering ditempatkan dalam stigma ‘berhadapan’, sudah saatnya ditempatkan dalam kerangka stigma ‘saling menguatkan’.”
–Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina dan Ketua Indonesia Mengajar)